Iran Peringatkan AS, Perang Jika Khamenei Diserang. Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat pada 19 Januari 2026: serangan apa pun terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan langsung memicu perang terbuka. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, di tengah ketegangan tinggi pasca-kerusuhan domestik dan ancaman dari Washington. Presiden AS Donald Trump baru saja menyatakan di X bahwa “Iran harus hati-hati” setelah demonstrasi anti-pemerintah di Tehran menewaskan ribuan orang, dan AS siap “bantu rakyat Iran kalau perlu”. Peringatan Iran ini bukan sekadar retorika—mereka tekankan bahwa Khamenei adalah “garis merah mutlak” yang tak boleh dilintasi, dan pelanggaran akan direspons dengan kekuatan penuh, termasuk serangan balik ke target AS di kawasan. INFO GAME
Latar Belakang Peringatan dan Ketegangan Iran dengan AS Saat Ini
Pernyataan ini muncul di tengah situasi domestik Iran yang sangat panas. Sejak akhir Desember 2025, protes ekonomi berubah jadi demonstrasi massal anti-rezim di 180 kota, dengan korban tewas ribuan akibat represi brutal pasukan keamanan. Pemerintah Iran salahkan “agen asing” dan “teroris bersenjata” yang didukung AS serta Israel. Trump, yang kembali berkuasa Januari 2025, sering sebut Khamenei sebagai “target sah” jika Iran terus dukung proksi seperti Hizbullah dan Houthi yang serang kapal AS di Laut Merah. Pernyataan Shekarchi bilang: “Jika satu rambut Khamenei disentuh, AS akan hadapi perang total—tidak ada batas, tidak ada tempat aman bagi pangkalan mereka di Teluk, Irak, atau Suriah.” Ini echo peringatan serupa dari IRGC tahun lalu, tapi kali ini lebih eksplisit dan langsung sebut nama Khamenei. Iran juga sebut ancaman Trump sebagai “deklarasi perang terselubung” yang memanfaatkan kerusuhan internal untuk intervensi.
Implikasi Militer dan Strategi Iran
Iran punya kemampuan balasan yang serius: ribuan rudal balistik presisi seperti Fateh-110, Zolfaghar, dan Khorramshahr yang bisa jangkau pangkalan AS di Bahrain, Qatar, UAE, dan bahkan Israel. IRGC punya jaringan proksi—Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman—yang bisa buka front multi-arah. Serangan drone dan rudal ke fasilitas minyak Saudi atau kapal tanker di Selat Hormuz bisa ganggu 20% pasokan minyak dunia. Iran juga ancam tutup Selat Hormuz jika perang pecah, langkah yang pernah diancam tapi belum dieksekusi penuh. Di sisi lain, AS punya keunggulan teknologi: kapal induk, F-35, dan sistem pertahanan rudal di kawasan. Tapi perang langsung dengan Iran berisiko tinggi—bisa picu konflik regional besar, lonjakan harga minyak, dan korban sipil massal. Peringatan ini juga ditujukan ke Israel, yang sering sebut serangan preventif ke fasilitas nuklir Iran. Khamenei sendiri bilang di pidato terbaru bahwa “musuh tahu konsekuensi menyentuh pusat kekuasaan kami.”
Reaksi Internasional dan Prospek Diplomasi: Iran Peringatkan AS, Perang Jika Khamenei Diserang
AS belum respons resmi peringatan ini, tapi Trump di X bilang “Iran bicara besar, tapi mereka tahu apa yang terjadi kalau mereka coba apa-apa.” Pentagon tingkatkan kewaspadaan di CENTCOM, dengan kapal induk USS Abraham Lincoln tetap di Teluk Persia. UE dan PBB kecam ancaman perang, serukan de-eskalasi dan akses kemanusiaan ke Iran untuk pantau korban kerusuhan. Rusia dan China dukung Iran secara diplomatik, sebut peringatan itu “hak bela diri” terhadap ancaman AS. Diplomasi tampak sulit: JCPOA (kesepakatan nuklir 2015) sudah mati sejak Trump tarik AS 2018, dan Iran kini perkaya uranium hingga 60%—dekat ambang senjata. Banyak analis bilang peringatan ini strategi deterensi: Iran ingin tunjukkan bahwa meski domestik lemah, mereka tak akan terima intervensi luar. Tapi jika AS atau Israel ambil langkah militer, risiko eskalasi jadi sangat nyata.
Kesimpulan: Iran Peringatkan AS, Perang Jika Khamenei Diserang
Peringatan Iran bahwa serangan ke Khamenei berarti perang total menambah ketegangan di Timur Tengah yang sudah panas. Di tengah kerusuhan domestik dengan ribuan korban, Teheran coba tunjukkan kesatuan dan kekuatan eksternal untuk cegah intervensi asing. AS di bawah Trump tampak tak gentar, tapi perang langsung dengan Iran berisiko besar—ekonomi global terganggu, harga minyak melonjak, dan kawasan bisa terbakar. Diplomasi jadi satu-satunya jalan keluar yang masuk akal, tapi kepercayaan antarpihak sudah sangat rendah. Saat ini, dunia menahan napas—satu kesalahan kecil bisa picu konflik yang tak terkendali. Semoga akal sehat menang sebelum terlambat.
