Hujan Salju Membuat 7.000 Orang Terjebak di Bandara Jepang. Badai salju deras yang melanda wilayah utara Jepang pada akhir Januari 2026 menyebabkan kekacauan besar di salah satu bandara internasional utama di Hokkaido. Lebih dari 7.000 penumpang terjebak selama hampir 24 jam karena ratusan penerbangan dibatalkan atau ditunda. Salju tebal yang turun sejak malam sebelumnya membuat landasan pacu tertutup dan visibilitas hampir nol, memaksa otoritas bandara menghentikan semua operasi. Kejadian ini langsung menjadi berita utama karena jumlah penumpang yang terdampak sangat tinggi dan kondisi cuaca ekstrem yang jarang terjadi di musim ini. Ribuan orang terpaksa bermalam di terminal, menunggu kabar pembukaan kembali bandara. MAKNA LAGU
Kronologi Kejadian dan Dampak Langsung: Hujan Salju Membuat 7.000 Orang Terjebak di Bandara Jepang
Badai salju mulai menguat sejak sore hari sebelumnya dengan angin kencang dan suhu yang turun drastis. Bandara sempat beroperasi normal hingga tengah malam, tapi setelah itu tim pembersih kesulitan membersihkan landasan karena salju terus turun tanpa henti. Sekitar pukul 02.00 dini hari, semua penerbangan domestik dan internasional dibatalkan. Penumpang yang sudah berada di dalam pesawat terpaksa kembali ke terminal, sementara yang baru tiba tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Pagi harinya, jumlah penumpang yang terjebak mencapai lebih dari 7.000 orang. Terminal dipenuhi orang-orang yang tidur di kursi, lantai, dan sudut-sudut ruang tunggu. Beberapa maskapai membagikan selimut, makanan ringan, dan air minum, tapi stok cepat habis karena jumlah orang sangat banyak. Toilet dan fasilitas umum kewalahan, sementara suhu di dalam terminal tetap dingin meski pemanas menyala penuh. Beberapa penumpang melaporkan kesulitan mendapatkan informasi akurat karena pengumuman sering tertunda akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.
Tim penyelamat dan petugas bandara bekerja keras membersihkan landasan dengan alat berat, tapi prosesnya lambat karena salju terus menumpuk. Beberapa pesawat yang sudah siap lepas landas harus menunggu hingga salju reda. Hingga sore hari berikutnya, baru sebagian kecil penerbangan yang bisa beroperasi kembali, itupun dengan delay panjang.
Upaya Penanganan dan Respons Pemerintah: Hujan Salju Membuat 7.000 Orang Terjebak di Bandara Jepang
Pemerintah daerah Hokkaido langsung mengaktifkan pusat koordinasi darurat. Hotel-hotel terdekat dibuka untuk menampung penumpang yang membutuhkan tempat istirahat, meski banyak yang tetap memilih bertahan di bandara karena takut kehilangan tempat di pesawat. Bus antar-jemput disediakan untuk membawa penumpang ke penginapan sementara. Petugas medis ditempatkan di terminal untuk menangani kasus kelelahan, hipotermia ringan, dan masalah kesehatan lain akibat tidur di lantai dingin.
Pihak berwenang juga meningkatkan distribusi makanan dan minuman panas melalui posko bantuan. Beberapa relawan lokal ikut membantu membagikan selimut dan makanan ringan. Pemerintah pusat menyatakan dukungan penuh dan meminta maskapai untuk memberikan kompensasi kepada penumpang yang terdampak. Beberapa perusahaan penerbangan akhirnya mengeluarkan voucher hotel dan makan, meski prosesnya lambat karena jumlah klaim sangat banyak.
Cuaca mulai membaik pada malam kedua, memungkinkan tim pembersih membersihkan landasan lebih efektif. Penerbangan perlahan kembali normal keesokan harinya, tapi backlog penumpang membuat delay masih terjadi hingga beberapa hari kemudian. Total kerugian diperkirakan mencapai miliaran yen akibat pembatalan, delay, dan biaya tambahan.
Dampak Jangka Panjang dan Pelajaran yang Dipetik
Kejadian ini langsung memicu diskusi tentang kesiapan infrastruktur bandara di wilayah rawan salju. Banyak yang menilai sistem pembersihan landasan dan prediksi cuaca perlu ditingkatkan. Beberapa pengamat menyarankan penambahan alat berat khusus salju dan sistem pemanas landasan untuk mengurangi waktu penutupan. Penumpang juga mengeluhkan kurangnya informasi yang jelas dan fasilitas darurat yang tidak memadai untuk jumlah orang sebesar itu.
Kasus ini jadi pengingat bahwa meski Jepang dikenal efisien dalam menangani bencana alam, cuaca ekstrem tetap bisa melumpuhkan operasi penerbangan dalam skala besar. Pemerintah dan maskapai berjanji melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, terutama menjelang musim dingin berikutnya.
Kesimpulan
Hujan salju yang membuat 7.000 orang terjebak di bandara Jepang menjadi peristiwa yang melelahkan tapi juga membuka mata tentang kerentanan transportasi udara terhadap cuaca ekstrem. Penanganan cepat dari petugas, warga, dan relawan berhasil meminimalkan risiko kesehatan, meski kenyamanan penumpang sangat terganggu. Kejadian ini harus jadi pelajaran berharga bagi otoritas penerbangan untuk meningkatkan kesiapan infrastruktur dan protokol darurat. Bagi ribuan penumpang yang terdampak, pengalaman ini mungkin jadi cerita yang tak terlupakan. Yang terpenting, semua akhirnya selamat pulang, dan bandara kembali beroperasi normal setelah badai reda. Semoga musim dingin tahun depan berjalan lebih lancar.
