Hujan Ekstrem Ancam Banjir Jakarta 23 Januari. Hujan ekstrem kembali mengancam Jakarta dan sekitarnya pada 23 Januari 2026. BMKG memprediksi curah hujan sangat tinggi (150–250 mm dalam 24 jam) di wilayah Jabodetabek, terutama Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Bekasi, akibat pengaruh bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa yang masih aktif. Peringatan dini dikeluarkan sejak malam sebelumnya, dan hingga pagi hari sudah terjadi genangan di 38 RT di Jakarta. BPBD DKI Jakarta langsung siaga penuh, sementara warga diminta waspada banjir rob, banjir bandang, dan longsor di daerah rawan. Cuaca buruk ini jadi pengingat bahwa musim hujan 2025/2026 masih jauh dari selesai. MAKNA LAGU
Penyebab dan Prediksi Cuaca: Hujan Ekstrem Ancam Banjir Jakarta 23 Januari
Bibit siklon tropis yang terdeteksi sejak 20 Januari terus menarik massa udara basah dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat. Sistem ini memicu konvergensi angin monsun baratan yang kuat, ditambah suhu permukaan laut hangat di atas 28 °C. Akibatnya, awan cumulonimbus berkembang masif di atas Jabodetabek. BMKG memprediksi hujan lebat hingga sangat lebat berlangsung hingga malam 23 Januari, dengan potensi petir dan angin kencang 40–60 km/jam. Curah hujan tertinggi diprediksi di Jakarta Selatan (Pancoran, Tebet, Mampang), Jakarta Timur (Ciracas, Duren Sawit), dan Bekasi bagian selatan. Curah hujan kumulatif bisa mencapai 200–300 mm dalam 48 jam, melebihi normal Januari yang sekitar 300 mm sebulan. Intensitas hujan diprediksi mencapai 50–80 mm/jam di beberapa titik, cukup untuk memicu banjir kilat dalam waktu singkat.
Dampak dan Kejadian Awal: Hujan Ekstrem Ancam Banjir Jakarta 23 Januari
Hingga siang 23 Januari, genangan air sudah terjadi di 38 RT di Jakarta, terutama di Kelurahan Cawang, Bidara Cina, Kampung Melayu, dan Cipinang Melayu. Ketinggian air bervariasi 30–80 cm, membuat beberapa ruas jalan utama seperti Jl. MT Haryono, Jl. DI Panjaitan, dan Jl. Raya Bogor macet parah. Banjir rob juga melanda kawasan pesisir utara Jakarta, termasuk Pluit, Ancol, dan Muara Karang, dengan ketinggian hingga 60 cm. Beberapa titik longsor kecil terjadi di lereng Jakarta Selatan dan Depok, menutup akses jalan kecil dan mengancam rumah warga. Listrik sempat padam di beberapa kawasan karena pohon tumbang menimpa kabel. BNPB dan BPBD DKI melaporkan 12 titik pengungsian sementara dibuka, dengan ratusan warga dievakuasi dari daerah rawan. Petugas gabungan TNI-Polri dan Satpol PP membantu evakuasi dan distribusi logistik darurat seperti makanan, air bersih, dan selimut.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi Warga
Gubernur DKI Jakarta langsung memimpin rapat koordinasi darurat pagi ini dan memerintahkan seluruh RT/RW siaga banjir. Pompa-pompa air di 10 titik utama diaktifkan penuh, sementara pintu air Manggarai dan pintu air Waduk Pluit dibuka untuk antisipasi luapan Kali Ciliwung. Dishub DKI menutup sementara beberapa ruas jalan rawan genangan dan mengalihkan lalu lintas. BMKG memperpanjang peringatan dini hingga 25 Januari dan minta warga hindari daerah rawan banjir serta sungai meluap. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, hindari aktivitas luar ruangan saat hujan deras, siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat, dan dokumen penting. Nelayan dan pengguna transportasi air diminta tunda aktivitas hingga gelombang reda. Pemerintah pusat melalui BNPB sudah siapkan bantuan logistik tambahan jika banjir meluas.
Kesimpulan
Hujan ekstrem yang dipicu bibit siklon tropis kembali mengancam banjir Jakarta dan sekitarnya pada 23 Januari 2026. Genangan, longsor kecil, dan banjir rob sudah terjadi di beberapa titik, membuat warga dan pemerintah harus siaga penuh. Respons cepat dari BPBD, Dishub, dan pompa air jadi harapan utama mengurangi dampak. Namun, intensitas hujan yang masih tinggi hingga 25 Januari berarti risiko banjir besar tetap ada. Warga Jakarta diminta tetap waspada, pantau informasi resmi, dan hindari daerah rawan. Semoga hujan segera mereda dan ibu kota bisa kembali normal tanpa korban tambahan. Cuaca ekstrem memang ujian, tapi kesiapsiagaan dan kerjasama bisa meminimalkan kerugian. Tetap aman di rumah kalau tidak mendesak!
