Cuaca Ekstrem Ancam Jawa Tengah & Jawa Barat. Cuaca ekstrem masih mengancam Jawa Tengah dan Jawa Barat hingga akhir pekan ini. BMKG memperpanjang peringatan hujan lebat disertai petir dan angin kencang hingga Minggu 9 Februari 2026. Sisa massa udara basah dari ex-siklon PENHA yang melemah ditambah pengaruh Monsun Asia menyebabkan curah hujan tinggi di wilayah pegunungan dan pesisir selatan kedua provinsi. Hingga Sabtu pagi 7 Februari, banjir, longsor, dan genangan masih melanda belasan kabupaten/kota, dengan korban jiwa bertambah menjadi 9 orang dan lebih dari 95.000 jiwa terdampak. REVIEW FILM
Wilayah Rawan dan Intensitas Hujan: Cuaca Ekstrem Ancam Jawa Tengah & Jawa Barat
Di Jawa Tengah, hujan lebat hingga sangat lebat terpantau di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Wonogiri, Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas. Curah hujan kumulatif 24 jam terakhir mencapai 150–280 mm di lereng selatan Gunung Slamet dan Merapi. Genangan air di kawasan rendah Cilacap dan Kebumen masih 80–140 cm, sementara longsor kecil terjadi di lereng Gunung Slamet dan Merbabu.
Jawa Barat juga terdampak parah, terutama Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Ciamis. Curah hujan 180–320 mm dalam 24 jam menyebabkan banjir bandang di Sungai Cimanuk, Citanduy, dan Cijalong. Longsor di lereng Gunung Guntur dan Papandayan memutus akses jalan nasional di beberapa titik. Banjir rob juga melanda pesisir selatan Garut dan Pangandaran akibat gelombang tinggi yang masih mencapai 3–4 meter.
Dampak terhadap Masyarakat dan Respons Darurat: Cuaca Ekstrem Ancam Jawa Tengah & Jawa Barat
Korban meninggal dunia bertambah menjadi 9 orang (4 di Garut, 2 di Cilacap, 2 di Tasikmalaya, 1 di Purworejo) akibat longsor dan banjir bandang. Lebih dari 95.000 jiwa terdampak, dengan sekitar 16.000 orang mengungsi sementara ke masjid, sekolah, dan balai desa. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, termasuk rusaknya rumah, jembatan, jalan, sawah, dan infrastruktur listrik. Beberapa akses jalan nasional seperti Sukabumi–Cianjur, Garut–Tasikmalaya, dan Cilacap–Purworejo masih terputus karena longsor dan genangan.
BPBD Jawa Barat dan Jawa Tengah mempertahankan posko gabungan 24 jam. Tim SAR Basarnas, TNI-Polri, Tagana, PMI, dan relawan terus melakukan evakuasi menggunakan perahu karet, helikopter, dan alat berat. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, dan terpal sudah disalurkan ke lebih dari 500 titik pengungsian. Gubernur Jawa Barat dan Jawa Tengah menyatakan status tanggap darurat diperpanjang hingga 12 Februari dan meminta bantuan tambahan dari pusat.
Rekomendasi BMKG dan Langkah Antisipasi
BMKG memperpanjang status siaga hingga 9 Februari dengan potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi masih mungkin terjadi. Masyarakat diimbau:
Hindari aktivitas di tepi sungai, lereng curam, dan pantai saat cuaca ekstrem.
Siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat-obatan, senter, dan dokumen penting.
Pantau informasi cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG atau radio lokal.
Pemerintah daerah juga diimbau mempercepat normalisasi sungai, pembersihan drainase, dan relokasi warga dari zona rawan longsor serta banjir bandang. BNPB menyiapkan stok bantuan logistik untuk 45 hari ke depan jika curah hujan tetap tinggi.
Kesimpulan
Meski siklon PENHA telah melemah, dampak cuaca ekstremnya masih sangat tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Banjir, longsor, dan genangan terus melanda, dengan korban jiwa bertambah menjadi 9 orang dan puluhan ribu jiwa terdampak. Respons cepat BPBD, Basarnas, TNI-Polri, dan pemerintah daerah sudah terlihat efektif, namun potensi bencana susulan tetap tinggi selama hujan masih intens. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan resmi. Semoga cuaca segera membaik dan tidak menimbulkan korban lebih lanjut. Kesiapsiagaan dan solidaritas tetap menjadi kunci menghadapi sisa musim hujan yang masih panjang. Tetap aman dan saling bantu di tengah cuaca ekstrem ini.
