BNPB Pantau Bencana Hidrometeorologi Awal Feb. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus meningkatkan pemantauan intensif terhadap potensi bencana hidrometeorologi di seluruh Indonesia selama periode 1–7 Februari 2026. Peringatan ini dikeluarkan menyusul hujan lebat berkelanjutan yang dipicu Monsun Asia dan bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa. Hingga pagi 5 Februari, BNPB mencatat 18 kejadian banjir, 12 longsor, dan 7 banjir bandang di 11 provinsi, dengan korban meninggal dunia mencapai 19 orang dan lebih dari 45.000 jiwa terdampak. Posko nasional BNPB di Jakarta bekerja 24 jam untuk koordinasi dengan BPBD provinsi dan kabupaten/kota. INFO SAHAM
Wilayah Rawan dan Kejadian Terbaru: BNPB Pantau Bencana Hidrometeorologi Awal Feb
BNPB memetakan 18 provinsi dengan status siaga tinggi, terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Kejadian terbaru yang dilaporkan:
Jawa Tengah: banjir bandang di Cilacap, Kebumen, dan Purworejo; longsor di lereng Merapi-Merbabu menewaskan 4 orang dan memutus akses jalan nasional.
Jawa Barat: tanah bergerak di Garut dan Tasikmalaya; banjir di Ciamis dan Banjar akibat luapan Sungai Cimanuk.
Sulawesi Selatan: banjir di Makassar, Gowa, dan Maros; genangan hingga 1 meter di kawasan rendah.
NTB: banjir bandang di Lombok Timur dan Sumbawa Barat; longsor di lereng Gunung Rinjani.
Papua: banjir sungai di Jayapura dan Pegunungan Tengah; longsor menutup akses jalan trans-Papua.
Curah hujan mencapai 150–320 mm dalam 24–48 jam terakhir di wilayah pegunungan dan pesisir. BMKG memprediksi hujan lebat masih berpotensi hingga 7 Februari, terutama saat puncak pasang tinggi.
Dampak terhadap Masyarakat dan Respons Darurat: BNPB Pantau Bencana Hidrometeorologi Awal Feb
Total korban meninggal dunia mencapai 19 orang (11 di Jawa Tengah, 5 di Jawa Barat, 3 di Sulawesi Selatan). Lebih dari 45.000 jiwa terdampak, dengan sekitar 8.500 orang mengungsi sementara ke posko-posko di masjid, sekolah, dan balai desa. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, termasuk rusaknya rumah, jembatan, jalan, sawah, dan infrastruktur listrik. Beberapa akses jalan nasional seperti jalur Cilacap–Purworejo, Garut–Tasikmalaya, dan Manado–Bitung masih terputus.
BNPB telah mengaktifkan posko nasional dan posko daerah sejak 2 Februari. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, Tagana, PMI, dan relawan melakukan evakuasi menggunakan perahu karet, helikopter, dan alat berat. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, dan terpal sudah disalurkan ke lebih dari 200 titik pengungsian. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa prioritas utama adalah penyelamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
Rekomendasi BNPB dan BMKG
BNPB dan BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap banjir susulan, longsor di lereng curam, pohon tumbang, dan gelombang tinggi di pantai. Rekomendasi utama:
Hindari aktivitas di tepi sungai, lereng curam, dan pantai saat hujan lebat.
Siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat-obatan, senter, dan dokumen penting.
Pantau informasi cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG dan Info Bencana BNPB.
Pemerintah daerah diminta mempercepat normalisasi sungai, pembersihan drainase, dan relokasi warga dari zona rawan. BNPB juga menyiapkan stok bantuan logistik untuk 30 hari ke depan.
Kesimpulan
Pemantauan intensif BNPB terhadap bencana hidrometeorologi awal Februari 2026 menunjukkan keseriusan pemerintah menghadapi musim hujan yang ekstrem. Hujan lebat dan angin kencang telah menimbulkan banjir, longsor, dan kerugian di berbagai wilayah, dengan korban jiwa yang terus bertambah. Respons cepat tim SAR dan distribusi bantuan sudah terlihat, namun potensi bencana susulan tetap tinggi selama hujan masih intens. Semoga cuaca segera membaik dan tidak menimbulkan korban lebih lanjut. Kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci mengurangi dampak. Tetap aman dan saling bantu di tengah musim hujan yang masih panjang.
