Banjir di Aceh Rendam Sawah Petani. Hujan lebat yang mengguyur Aceh sejak malam 30 Januari hingga siang 2 Februari 2026 menyebabkan banjir melanda ribuan hektare sawah di beberapa kabupaten. Luapan sungai dan meluapnya saluran irigasi membuat lahan pertanian di Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Aceh Besar terendam air setinggi 50–150 cm. Hingga pagi ini, Dinas Pertanian Aceh mencatat sekitar 4.800 hektare sawah terendam, dengan sebagian besar tanaman padi usia 40–80 hari yang sudah mendekati panen. Kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, dan petani kini khawatir gagal panen massal di musim tanam pertama 2026. Banjir ini menjadi salah satu yang terparah di Aceh sejak awal tahun. REVIEW FILM
Penyebab Banjir dan Wilayah Terdampak: Banjir di Aceh Rendam Sawah Petani
Curah hujan ekstrem mencapai 250–380 mm dalam 36 jam terakhir di wilayah pesisir timur Aceh, ditambah rob air pasang dari Selat Malaka yang memperparah genangan. Debit sungai besar seperti Sungai Tamiang, Sungai Peusangan, dan Sungai Krueng Aceh naik drastis hingga melebihi kapasitas normal 2–3 kali lipat. Saluran irigasi yang tersumbat sampah dan sedimentasi juga mempercepat banjir di lahan pertanian.
Wilayah paling parah meliputi:
Aceh Utara (Kecamatan Dewantara, Tanah Luas, dan Seunuddon): sekitar 1.900 ha sawah terendam, ketinggian air 80–150 cm.
Aceh Timur (Kecamatan Peureulak dan Idi Rayeuk): 1.400 ha sawah tergenang, sebagian tanaman padi usia 60–70 hari rusak parah.
Aceh Tamiang (Kecamatan Karang Baru dan Bendahara): 800 ha terendam, akses jalan tani terputus di beberapa titik.
Aceh Besar (Kecamatan Indrapuri dan Seulimeum): 700 ha sawah terendam, genangan mencapai 100–120 cm.
Banyak petani melaporkan tanaman padi yang hampir panen rusak karena terendam lebih dari 48 jam, sementara bibit padi muda di persemaian juga ikut terendam.
Dampak Ekonomi dan Kondisi Petani: Banjir di Aceh Rendam Sawah Petani
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp 40–60 miliar, terutama dari gagal panen padi yang seharusnya dipanen Februari–Maret. Sekitar 12.000 petani terdampak langsung, dengan sebagian besar kehilangan 60–100% hasil panen di lahan terendam. Harga gabah di tingkat petani langsung turun karena pasokan berkurang, sementara harga beras di pasar tradisional mulai naik 5–8% dalam dua hari terakhir.
Banyak petani kehilangan bibit cadangan dan pupuk yang ikut terendam. Beberapa keluarga petani di Aceh Utara dan Aceh Timur mengungsi sementara ke rumah saudara karena rumah mereka juga terendam. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, namun beberapa petani mengalami stres berat karena khawatir gagal panen berulang setelah musim tanam sebelumnya juga terdampak banjir.
Respons Pemerintah dan Langkah Darurat
Gubernur Aceh menyatakan status tanggap darurat bencana di empat kabupaten terdampak sejak 1 Februari. BPBD Aceh mengerahkan tim evakuasi dan distribusi logistik ke desa-desa terisolasi. Bantuan berupa benih padi unggul, pupuk, makanan siap saji, dan air minum sudah mulai disalurkan melalui posko-posko di kantor camat dan balai desa. Kementerian Pertanian mengirim tim assesmen untuk menghitung kerugian dan menyiapkan bantuan bibit serta pupuk gratis bagi petani terdampak.
Pemerintah daerah juga mempercepat pembersihan saluran irigasi dan normalisasi sungai kecil yang tersumbat. BMKG memperpanjang peringatan hujan lebat hingga 4 Februari dengan potensi banjir susulan masih tinggi.
Kesimpulan
Banjir yang merendam ribuan hektare sawah di Aceh telah menimbulkan kerugian besar bagi petani dan mengancam pasokan pangan lokal di musim panen pertama tahun ini. Respons pemerintah provinsi dan pusat sudah berjalan dengan distribusi bantuan dan assesmen cepat, namun pemulihan lahan sawah yang terendam membutuhkan waktu dan dukungan berkelanjutan. Prakiraan cuaca hingga awal Februari masih menunjukkan potensi hujan lebat, sehingga kewaspadaan petani dan pemerintah daerah harus tetap tinggi. Semoga hujan segera reda dan petani Aceh bisa bangkit kembali dengan cepat. Banjir memang ujian berat bagi petani, tapi solidaritas dan bantuan tepat waktu bisa meringankan beban mereka. Tetap semangat, petani Aceh!
