AS Kembali Menyerang Venezuela. Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melakukan operasi militer mendadak di Venezuela, menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam aksi yang disebut Operation Absolute Resolve. Serangan ini melibatkan serangan udara di Caracas, termasuk pangkalan militer dan gedung legislatif, yang berlangsung sekitar dua jam mulai pukul 2 dini hari waktu setempat. Maduro langsung dibawa ke AS dan ditahan di pusat penahanan di Brooklyn, New York, untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba dan senjata. Presiden AS menyatakan bahwa tindakan ini bertujuan memutus rantai narkotika ke negaranya, sekaligus membuka jalan transisi kekuasaan di Venezuela. Operasi ini menewaskan lebih dari 80 orang, termasuk 32 personel militer Kuba, dan memicu gelombang reaksi global. REVIEW WISATA

Kronologi Serangan dan Penangkapan Maduro: AS Kembali Menyerang Venezuela

Serangan dimulai dengan ledakan di berbagai lokasi strategis di Caracas, termasuk pangkalan udara militer dan instalasi pemerintahan. Pasukan khusus AS menyusup ke kompleks kediaman Maduro, menangkapnya beserta istrinya tanpa perlawanan signifikan dari pengawal. Seluruh operasi berlangsung cepat, dengan laporan bahwa tidak ada korban jiwa di pihak AS, meski dua tentara terluka ringan. Maduro kemudian diterbangkan keluar negeri dan tiba di AS keesokan harinya. Ini bukan pertama kalinya AS bertindak terhadap Venezuela; sejak akhir 2025, kapal perang dan jet tempur AS telah dikerahkan di wilayah Karibia untuk memblokir kapal tanker minyak ber sanksi dan menyerang kapal narkoba. Tindakan terbaru ini dianggap sebagai eskalasi langsung, setelah ancaman berulang dari pemerintahan AS terhadap rezim Maduro yang dituduh terlibat dalam jaringan terorisme dan narkotika.

Reaksi Internasional yang Keras: AS Kembali Menyerang Venezuela

Dewan Keamanan PBB segera menggelar rapat darurat pada 6 Januari 2026, di mana anggota termasuk sekutu AS mengutuk tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Rusia dan Cina mengecam operasi sebagai agresi imperialis, sementara negara-negara Amerika Latin seperti Kuba dan Kolombia menyatakan keprihatinan mendalam. Di Kuba, ribuan orang turun ke jalan memprotes, mengingat keterlibatan personel mereka yang tewas. Presiden Kolombia Gustavo Petro mengecam serangan dan mengancam respons lebih lanjut jika AS melanjutkan intervensi. Di sisi lain, sebagian warga Venezuela di pengasingan merayakan penangkapan Maduro, melihatnya sebagai akhir era pemerintahan otoriter. Namun, secara global, tindakan AS ini dianggap berisiko memicu ketegangan baru di kawasan, mengingat sejarah intervensi seperti invasi Panama pada 1989.

Dampak Ekonomi dan Rencana Masa Depan AS

Serangan ini langsung berdampak pada sektor minyak Venezuela, yang memiliki cadangan terbesar di dunia. Pemerintahan AS menyatakan niat mengambil alih operasi minyak untuk memastikan aliran stabil, dengan perusahaan minyak AS diizinkan masuk selama periode transisi. Presiden AS menyebutkan bahwa negaranya akan “mengendalikan” Venezuela sementara hingga transisi yang adil terwujud, termasuk potensi serangan kedua jika ada perlawanan. Ekonomi Venezuela, yang sudah rapuh akibat sanksi bertahun-tahun, kini menghadapi ketidakpastian lebih besar, dengan pemadaman listrik di selatan Caracas pasca-serangan. Di dalam negeri AS, operasi ini mendapat dukungan dari kalangan konservatif tapi dikritik karena fokus pada minyak, yang dianggap mempertanyakan motif utama penegakan hukum. Langkah ini juga memicu perdebatan di Kongres AS, di mana pemimpin partai diberi tahu setelah operasi dimulai.

Kesimpulan

Serangan AS ke Venezuela pada awal 2026 menandai eskalasi dramatis dalam hubungan kedua negara, dengan penangkapan Maduro sebagai titik puncak ketegangan panjang. Meski diklaim sebagai operasi anti-narkoba, tindakan ini memicu kontroversi global atas pelanggaran kedaulatan dan potensi motif ekonomi. Di tengah reaksi keras dari komunitas internasional, masa depan Venezuela kini bergantung pada bagaimana transisi kekuasaan dikelola. Operasi ini mengingatkan pada risiko intervensi militer di era modern, di mana dampaknya bisa meluas ke stabilitas regional. Ke depan, dialog diplomatik mungkin menjadi kunci untuk meredakan ketegangan, sambil memastikan hak asasi manusia dan stabilitas ekonomi bagi rakyat Venezuela.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *